Baru-baru ini Dunia Akademik di Indonesia diguncangkan dengan skandal penipuan konferensi dengan modus jalan-jalan gratis ke luar negeri. Konon katanya, modus yang dilakukan pelaku adalah membuat judul/topik penelitian yang sangat “wah” dan memukau bagi para peneliti dan panitia konferensi yang melihat dengan sekilas karya-karya “ilmiah” mereka, namun ternyata karya-karya “ilmiah” mereka yang ditampilkan di konferensi tersebut diduga difabrikasi dengan menggunakan Akal Imitasi (AI) sehingga mengelabui para panitia penyelengara konferensi. Usaha mereka terbongkar karena beberapa orang yang juga dari Indonesia menemukan kejanggalan dari poster-poster penelitian yang mereka paparkan di konferensi bergengsi internasional yaitu ISPPD-14 pada tahun 2026. Bebrapa kejanggalan-kejanggalan yang mereka temukan antara lain :
1) Presenter tidak bisa menjawab pertanyaan audiens dengan tepat padahal terkait dengan penelitian presenter itu sendiri,
2) Poster presentasi konferensi yang tidak sesuai format,
3) Penelitian yang janggal, yaitu dimana pengambilan data medis yang biasanya membutuhkan konsen dari para pasien dilakukan di luar negeri, namun para peneliti-penelitinya semua dari Indonesia.
Umumnya, penelitian yang mengharuskan pengambilan data pasien di luar negeri melibatkan mitra peneliti dari negara yang bersangkutan. Dari kejanggalan-kejanggalan inilah para peneliti yang curiga ini melakukan investigasi, dan ternyata benar – selama ini mereka konferensi bukanlah untuk berkontribusi terhadap sains, melainkan untuk mencari hibah jalan-jalah ke luar negeri.
Ini adalah salah satu kasus yang melibatkan para ilmuwan-ilmuwan dalam negeri yang melakukan penyalahgunaan kepercayaan publik. Penulis tidak mengatakan bahwa semua ilmwan hanya ingin semua itu-banyak ilmuwan yang jujur yang mementingkan sains dan pengetahuan. Namun, kebanyakan masyarakat awam suka menggeneralisasi sesuatu, terlepas apakah mereka itu WNI atau tidak. Akibatnya, banyak yang berpendapat bahwa penelitian dan sains adalah “scam” yang tidak berguna, mengakibatkan ilmuwan-ilmuwan yang jujur kesulitan untuk mendapatkan dana untuk penelitian-penelitiannya. Sebagai kimiawan, penulis juga merasakan bagaimana sulitnya untuk mendapatkan bahan-bahan kimia yang dibutuhkan untuk masuk ke Indonesia karena tidak mendapatkan hibah atau dana yang dibutuhkan untuk penelitian saya. Menjadi Ilmuwan memanglah suatu kehormatan, namun untuk mendapatkan kepercayaan publik dan dunia bukanlah hal yang mudah.
Sayangnya, kejadian yang bisa dikatakan “scientific misconduct” bukanlah hal yang baru. Jika kita melihat kebelakang, sains yang dulunya adalah metodologi yang ulet dan teliti untuk mendapatkan pengetahuan baru, sekarang berevolusi menjadi ajang untuk mencari keuntungan dan kehormatan. Keuntungan utama yang selalu dicari adalah – publikasi ilmiah di jurnal Q1. Sifat yang mengorbankan integritas ini bukanlah berasal dari para ilmuwan itu sendiri, melainkan berasal dari tuntutan dari akademisi dan universitas agar dapat memamerkan kemampuan ilmiahnya kepada nasional maupun dunia. Inilah yang membuat para ilmuwan-ilmuwan baik dalam maupun luar negeri menjadi stress dan frustasi karena tuntutan ini. Budaya seperti ini sudah ada namanya: “Publish or Perish.” Artinya, kalian harus publikasi atau kalian akan didemosi ke tingkatan yang lebih bawah. Walaupun di permukaannya kelihatan bagus untuk mendorong para peneliti agar mendapatkan penelitan yang berkualitas, namun kenyataannya juga mendorong para ilmuwan-ilmuwan untuk mengorbankan integritas ilmiah mereka. Berikut ini adalah beberapa kasus-kasus “scientific misconduct” yang dilakukan para ilmuwan-ilmuwan seluruh dunia.
Penelitian-Penelitian dengan Topik dan Judul Luar Biasa:
1. Kasus Diederik Stapel
Pada tahun 2001, seorang ilmuwan psikologi Belanda bernama Diederik Stapel mempublikasikan karya ilmiah di bidang psikologi yang berjudul – Messy Environments & Discrimination (2001) – dimana dari studi tersebut menunjukkan prasangka buruk terhadap ras dipengaruhi oleh kebersihan dan sampah berserakan. Penelitian tersebut dilakukan di sebuah tempat duduk di sebuah stasiun kereta api. Penelitian lain yang dilakukan oleh beliau adalah penelitian yang menyimpulkan bahwa ruangan berbau menyengat seperti ikan sarden akan membuat teman-teman sekelas menjadi lebih curiga. Penelitian yang dilakukan oleh beliau sangat menarik sehingga menjadi topik panas terutama di sains perilaku. Selain itu, penelitian beliau berhasil mempengaruhi kebijakan politik Belanda pada saat itu. Sayangnya, penelitian yang beliau lakukan mengandung data fabrikasi yang mempengaruhi kesimpulan yang dibuat. Inilah mengapa penelitian yang dilakukan oleh Stapel tidak bisa direplikasi oleh kalangan ilmuwan-ilmuwan perilaku. Akibat skandal ini, Diderik Stapel dipecat dari pekerjaannya sebagai ilmuwan. Namun beliau mempublikasikan buku yang berjudul “De fictiefabriek: een bevrijdingsromanin brieven” yang dengan terang-terangan mengakui fabrikasi data tersebut, namun dibalik itu semua ternyata ada motivasi tersembunyi dibalik itu: keinginan untuk mencari terobosan besar dalam sains terutama sains perilaku.
2. Kasus Jan Hendrik Schön
Kira-kira pada tahun 2000, seorang fisikawan Bell Labs (sebuah perusahaan besar di Amerika Serikat pada saat itu) bernama Jan Hendrik Schön mempublikasikan semikonduktor dengan material baru: Semikonduktor organik. Pada saat itu, material semikonduktor biasanya berbasis silikon atau metaloid, penemuan oleh Schön pada saat itu benar-benar menjadi perhatian para ilmuwan pada saat itu. Karena fabrikasi material semikonduktor dengan berbasis silikon memiliki batas yang mencegahnya untuk diminiaturkan menjadi lebih kecil. Penemuan semikonduktor organik memberikan harapan bahwa batas ini dapat dilewati karena semikonduktor organik yang disintesis adalah semikonduktor molekular. Sayangnya, penelitian yang dilakukan oleh Jan Hendrik Schön ternyata palsu.
Kepalsuan penelitian Schön ketahuan dari adanya penggunaan diagram yang persis sama (bukan lagi mirip) antara dua makalah yang berbeda yang diterbitkan ke jurnal Science. Setelah dilakukan investigasi lebih dalam, ternyata tidak hanya diagram/gambar yang dipublikasikan oleh Schön di jurnal itu difabrikasi, ternyata hampir semua data yang telah dipublikasikan adalah hasil fabrikasi. Akibat dari penemuan ini – bahwa makalah yang ditulis oleh Schön – kemungkinan berdasarkan data fabrikasi, maka para ilmuwan semikonduktor yang beberapa dari mereka adalah ilmuwan Bell Labs meluncurkan investigasi terhadap penelitian yang dilakukan oleh Schön. Hasilnya, ternyata banyak data-data yang dipublikasikan oleh Schön adalah hasil fabrikasi data. Akibatnya, semua makalah yang dipublikasikan oleh Schön dan koleganya diretraksi (retracted) dari jurnal-jurnal ilmiah dan Schön selain dipecat jadi fisikawan Bell Labs, beliau juga kehilangan gelar Ph.D/doktornya.
Penyalahgunaan AI dalam Dunia Sains Telah Menjadi Kekhawatiran Para Ilmwuan sejak Lama
Setelah perusahaan OpenAI meluncurkan ChatGPT pada tahun 2022, perangkat lunak tersebut menjadi viral karena ChatGPT memberikan respons yang hampir tidak bisa dibedakan dengan respons yang ditulis oleh manusia. Kemudian OpenAI meluncurkan Dall.E yang digunakan untuk membuat gambar buatan/fabrikasi yang sangat mirip dengan foto dunia nyata yang hampir tidak bisa dibedakan dengan foto yang dipotret dengan kamera asli. Dengan kemampuan seperti ini, AI dapat disalahgunakan sebagai alat untuk menyebar hoax dan memfabrikasi data. Kemampuan AI ini menyebabkan kekhawatiran di dunia akademik karena yang dilakukan Stapel atau Schön mereka memalsukan atau memfabrikasi data tidak menggunakan AI. Dengan adanya AI, para peninjau ilmiah pada jurnal-jurnal menjadi kesulitan untuk meninjau makalah ilmiah yang masuk ke dalam jurnal-jurnal ilmiah. Dan yang lebih parah lagi, para peninjau menggunakan AI untuk meninjau makalah yang masuk. Hal ini sudah terjadi di mana-mana, pada tahun 2025 telah terdeteksi ribuan makalah-makalah yang kemungkinan dibuat oleh AI. Oleh karena itu setelah tahun 2022, reliabilitas penelitian sains menurun karena banyak jurnal-jurnal dibanjiri oleh makalah-makalah yang diselesaikan oleh AI. Namun, penggunaan AI dalam penelitian bukanlah hal yang buruk, AI dapat membantu dalam penelitian, pencarian referensi, dan membantu menyelesaikan masalah atau mencari celah penelitian (research gap). Sayangnya, kebanyakan dari kita kalangan ilmuwan dipaksa untuk mempublikasikan karya ilmiah yang banyak serta meningkatkan indeks-H (indeks yang merepresentasikan kualitas peneliti tersebut) menyebabkan para peneliti mencari jalan pintas untuk menyelesaikan tugas yang dipaksakan tersebut. Mudah-mudahan kejadian ini memberikan pelajaran bagi kita dalam menjaga integritas kita di dunia akademik.
Lalu kesimpulannya, Apa yang bisa kita lakukan?
Sayangnya karena kecanggihan AI dalam mengimitasi sesuatu – termasuk makalah ilmiah – semakin hari semakin baik, maka kita sebagai manusia harus beradaptasi. Tidak ada cara selain melakukan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya integritas sains, pentingnya penelitian, dan penggunaan AI yang etis dan berintegritas. Integritas bukan hanya ada dalam dunia sains atau akademia, melainkan juga penting dalam kehidupan sehari-hari. Kehilangan integritas akan menghancurkan kepercayaan masyarakat dan merupakan bibit dari korupsi. Ada anggapan bahwa sains itu secara otomatis memperbaiki diri sendiri atau biasanya disebut self-correcting. Namun berdasarkan kenyataan di atas sains tidaklah selalu memperbaiki diri sendiri. Sains bukanlah “kebenaran” yang harus dituruti atau diterima, melainkan metodologi, proses belajar, dan memahami kondisi sekitar baik itu adalah dunia material, psikologi, ataupun sosial. Dan proses tersebut membutuhkan kesabaran dan integritas. Ketika integritas dikorbankan, maka hasilnya sains dan akademia menjadi “busuk” yang tidak mementingkan tujuan dari metode ilmiah itu sendiri.
Tautan lebih lanjut
https://www.dw.com/id/kronologi-dugaan-skandal-riset-palsu-yang-libatkan-wni/a-77321515


Leave a Reply